Minggu, 22 April 2018

Sekian Lama Terlelap...

Hwuaaah...
Rasanya seperti menghirup udara baru. Lama sudah tidak menulis di blog ini. Sekarang mudah-mudahan niat baru untuk lebih sering menulis bukan sekedar hangatnya gorengan ketika baru dibeli, hehehe...
pixabay.com
Tentu sudah banyak yang terjadi sepanjang waktu yang telah ditinggalkan...eehm tepatnya diistirahatkan sejenak :) wkwkwk...(mencari pembelaan).

Sudah banyak proses transformasi yang saya alami akhir-akhir ini, dan akan saya coba bagikan di blog ini. Perkembangan terakhir, saya mulai mengembalikan habit menulis dengan mengikuti saran-saran mereka yang sudah berpengalaman lebih banyak. Kedengarannya klise, tapi yah sepertinya memang hanya itu jalannya, yakni menciptakan habit pribadi untuk menulis. Dan itu bagi saya susahnya minta ampun.

Untuk bisa sampai pada keputusan saya harus membentuk habit pribadi, jalannya berliku dan penuh pengorbanan...#tsaaah...dramatis banget.
Tapi tentu saja tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Sampai sekarang saya masih belajar untuk tetap berada di jalurnya. Keep on track.

Tuhan memang selalu punya cara yang unik untuk "mementori" umatnya agar bisa naik kelas. Sesulit apa pun dan semenderita apa pun menurut kita, itu sudah diukur dan sesuai dengan kemampuan alamiah kita untuk menahannya. Dan memang keindahan matahari setelah badai itu hanya bisa dilihat setelah badainya berlalu. 

Saya diajak untuk kembali menelusuri tujuan hidup saya, keinginan saya , memilahnya menjadi prioritas yang benar-benar ingin saya jalani dalam hidup ini. Untuk kemudian di breakdown lagi dalam kegiatan dan tindakan-tindakan yang lebih detil, konkrit, dan mudah dilakukan. Salah satunya keinginan untuk rajin menulis di blog personal ini. Untuk minat yang lebih spesifik, saya coba bagikan di blog saya yang lain, yakni www.guwenulis.blogspot.co.id dan www.ikesimplelifejourney.blogspot.co.id. Semua masih pakai platform gratisan..hehe :) Moga bisa disegerakan untuk berbayar dan profesional.

Uupss...panjang amat yaa...
Cukuplah untuk bisa jadi catatan kaki memulai perjalanan lagi dengan blog ini ;)

-ndil-

Minggu, 31 Desember 2017

Lost in Resolution

Tepat di hari pertama tahun 2018, saya memantapkan diri untuk menerapkan resolusi-resolusi yang sudah saya buat di akhir tahun 2017 kemaren.

Seperti umumnya resolusi, isinya adalah harapan-harapan baik di tahun berikutnya. Berharap terjadi perbaikan dan peningkatan kesempurnaan diri. Otak saya pun penuh dengan rencana-rencana baru yang saya yakini lebih canggih dibandingkan yang sudah saya lakukan di tahun 2017.

Meski demikian, saya merasa penuh syukur atas segala pencapaian di 2017. Hal ini membuat saya yakin untuk melangkah lagi ke tingkat yang lebih baik di 2018.



Simple Life

Hal menarik yang justru saya dapati di akhir tahun 2017 adalah inspirasi untuk memiliki hidup yang lebih simpel (sederhana). 

Ya..saya menyadari hidup saya menjelang akhir tahun 2017 sudah mulai cukup sesak dengan berbagai informasi, ambisi dan keinginan-keinginan saya. Saya memang punya tujuan yang ingin saya raih. Masalahnya, saya sering tidak disiplin untuk fokus pada tujuan. Alhasil, banyak tujuan-tujuan yang belum/tidak penting ikut masuk to do list.

Macam emak-emak yang belanja di supermarket lah..hehe. Enggak bawa catatan khusus daftar belanjaan. Jadinya malah belanja barang-barang yang enggak penting. Sementara barang yang paling penting malah lupa dibeli. Heeem...lupa apa doyaaan..hahaha.

Lost in Resolution

Begitulah..akhirnya saya jadi overload. Makanya saya mulai buat resolusi yang tepat untuk mengatasinya.

Tapi saya lupa bahwa resolusi yang baik seharusnya cukup satu dan fokus.

Karena sudah terlanjur ambil banyak fokus, maka saya berusaha untuk menyelesaikannya. Rasanya semua hal di sekitar saya mendadak terasa penting untuk tidak dilewatkan.

Lagi-lagi, saya belum bisa memilah -milah level prioritasnya. Itulah yang membuat saya disorientasi dan tersesat. Yes, I lost in resolution.



Imperfect Beauty

Sungguh, rasa terima kasih yang besar saya ucapkan buat sahabat yang telah menginpirasi saya untuk menuliskannya kembali.

Kadang, kita tidak perlu menunggu untuk jadi sempurna agar akhir tahun ini bisa kita tutup dengan penuh kebanggaan. Cukuplah dengan merasakan kepuasan batin dan kebahagiaan diri sendiri, tahun 2017 bisa kita tutup dengan sempurna.

"Cantik tidak harus sempurna.."
"Setangkai bunga yang kehilangan satu kelopaknya, tetaplah memancarkan kecantikan bunga".

Untuk itu, saya beranikan diri memangkas beberapa resolusi dari daftar yang ada. Hingga hanya meninggalkan dua resolusi saja.

Ya..saya beranikan diri saya untuk fokus dan membersihkan diri dari semua hal-hal yang mengaburkan tujuan.



Dan saya akan mulai mengayunkan kembali langkah-langkah kecil saya di tahun 2018.

Lebih simpel
Lebih fokus
dan 
Lebih berdaya..

Welcome 2018

-dianike-

Minggu, 05 November 2017

Sukses Berbisnis Properti dengan Modal 20 Juta

Ketika anaknya lahir, ibu rumah tangga ini berpikir untuk memberikan rumah tinggal yang lebih baik bagi buah hati dan suaminya. Sayang, tabungan mereka saat itu tidak cukup untuk membeli rumah lewat KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Jangankan untuk membeli rumah, untuk membayar DP rumah saja tidak cukup. Tetapi justru dari sinilah perjuangannya membangun bisnis properti dimulai. Hanya dengan modal 20 juta, Sariningsih berhasil merajut impiannya untuk bebas finansial melalui bisnis properti.

sumber : fb sari ningsing


Perjuangan yang Tidak Disengaja

Setelah menikah di tahun 2012, Sari Ningsih sempat tinggal dalam rumah kontrakan selama dua tahun dan belum berpikir untuk memiliki rumah sendiri saat itu. Tetapi ketika anak pertamanya lahir, barulah ia berpikir untuk memiliki rumah yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan buah hati.

"Saat anak saya, Dastan lahir, mulai terpikir untuk mempunyai rumah. Saya ingin Dastan tinggal di rumah yang lebih lega. Saat itu yang terpikir adalah mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di sekitar Pondok Aren. Tetapi begitu melihat harga rumah, ternyata untuk DP saja tabungan kami belum cukup". Demikian yang diceritakan Sariningsih dalam buku perdananya, Perempuan Bisa Bisnis Properti.

Maka dimulailah perjalanannya membangun bisnis properti. Dengan modal tabungan sebesar Rp 20 juta, Sariningsih membelanjakan uangnya untuk membeli tanah seluas 120 meter persegi di daerah Serpong, Tangerang Selatan. Rencananya, di tanah itu akan dibangun empat rumah petak. Meski tanah tersebut sempat dianggurkan selama satu tahun, pergerakan harga tanah yang terus naik, mendorong Sariningsih dan suaminya untuk mengumpulkan modal tambahan hingga Rp 30 juta untuk biaya pembangunan rumah petak pertamanya. Bahkan ibu satu anak ini rela menjual emas kawinnya untuk biaya tambahan pembangunan.

Hanya berselang satu bulan setelah proses pembangunan, rumah petak pertamanya yang bertipe 21 itu laku terjual dengan harga Rp 55 juta. Uang itu diputar kembali untuk untuk membangun dua rumah petak lainnya. Dalam waktu singkat, kedua rumah itu pun laku terjual, hingga ia dan suaminya bisa mengantongi uang Rp 125 juta dari hasil penjualan tersebut.

Uang itu terus diputarnya menjadi modal untuk membangun rumah selanjutnya. Dia pun kembali berburu lahan untuk dibangun rumah. Kali ini Sariningsih mulai merambah kawasan Bintaro, dan bisnis propertinya pun mulai berkembang satu demi satu.

Pengalaman dan pergulatannya dalam bisnis jual beli properti inilah akhirnya memberi keyakinan pada Sariningsih bahwa membeli rumah tidak harus selalu melalui KPR. Kita bisa membeli rumah cash tanpa KPR. Semangat inilah yang membawanya membentuk komunitas properti Beli Rumah Tanpa KPR. Tujuannya agar lebih banyak orang yang belajar berbisnis properti tanpa takut tidak memiliki modal yang besar, dan tentu saja perempuan juga sangat bisa terjun sebagai pebisnis properti yang handal.


Rabu, 18 Oktober 2017

Antara Agnes Monica dan Saya

Heem.. jelas beda banget kalee ya ^^ hihi..
Tapi yang pasti saya buka fans beratnya Agnes Mo. Hanya pengagum dan penikmat saja.

Saya suka Agnes Mo karena prestasinya dan terutama because of she is a very tough woman. Meski umurnya terpaut 5 tahun lebih muda dari saya, karakternya sangat kuat. Bikin gatal untuk
nulis soal ini ^^

Agnes Mo adalah sosok keberhasilan didikan dan bentukan dari orangtuanya. Sosok yang disiplin, tangguh, bermimpi besar, dan pekerja keras. Teringat sosok Agnes masih kecil saat pertama kali dia tampil nyanyi bareng Eza Yayang. Hadeeeh...jaman baheula tuh hahaha...
Gigi kelincinya besar, percaya diri yang juga besar membuat penampilan Agnes mudah menarik perhatian, dan tentu saja saya sangat suka. Jarang ada artis anak (pada saat itu) yang punya aura bintang memancar deras seperti Agnes.

Waktu berlalu, kini Agnes berhasil jadi mega bintang dan dia sangat berkomitmen akan hal itu. That is her life. 

So, apa hubungannya sama saya?

Enggak ada..hehe ^^ Well, gini, saya tuh suka sama cara berpikir perempuan ini. Dia tahu apa yang dia mau sedari muda. You know what? Gak semua orang berpikir kayak gini. Termasuk saya. Sekolah dari SD sampe SMP, selalu berprestasi. Lanjut SMA dan kuliah, akhirnya kerja. Semua saya lalui dengan biasa aja. Nilai juga gak jelek-jelek amat. Yaah..normatif bangetlah.

Tapi semua berubah ketika saya menikah dan jadi seorang ibu. Tiba-tiba tersadar.. Apa tujuan hidup saya sebenarnya? Apa yang bener-bener saya pengenin di dunia ini? Apa yang pengen saya kejar dan wujudkan? Secara sekarang sudah ada anak yang perlu saya persiapkan baik-baik menjalani dunianya. Aneh memang. Kenapa baru sekarang tersadar.

Mungkin sebelumnya sudah pernah terpikirkan, tapi tidak secara serius menyadari bahwa hal itu penting. Hanya karena ada buah hati sajalah yang membuat saya berpikir keras untuk itu. Hanya untuk anak-anak sajalah saya mulai merunut sulur-sulur tujuan hidup ini. Merekalah yang membuat saya harus belajar tentang psikologi dan pengembangan diri. Semua untuk benar-benar mempersiapkan tiga bintang kecilku bersinar di langitnya nanti.

Sambil belajar untuk anak-anak, ternyata saya juga menemukan banyak ilmu untuk diri sendiri. Saya juga belajar memperbaiki diri. Termotivasi untuk juga menemukan apa tujuan hidupku sendiri. Dengan semakin mengenal diri sendiri, maka saya pikir akan terasa lebih mudah untuk mentransfernya ke anak-anak.

Jadi, begitulah awal kekaguman saya yang makin bertambah pada Agnes Mo. Kagum pada kedewasaan yang ditunjukkannya. Yang kadang-kadang menyentil level kedewasaan saya haha...
Melihat Agnes Mo, meyakinkan saya bahwa perempuan itu lembut sekaligus kuat. Meyakinkan saya bahwa perempuan berhak mewujudkan mimpi-mimpinya.

Saya pun banyak mengalami kehilangan. Kehilangan rasa enggak pe-de, rasa minder, rasa menyalahkan keadaan, perasaan menerima nasib apa adanya. Karena saya tahu kita bisa menentukan nasib kita sendiri. Nah, sekarang what next? Sambil terus belajar dan memperbaiki diri, sekarang saya tahu harus kemana ;)

Salam hangat,
-ndil-





Sabtu, 22 April 2017

23 April, Hari Buku Sedunia

Ada yang baru tahu kalo tanggal 23 April itu adalah peringatan Hari BUKU Sedunia?
Kalau ada, berarti saya ada temennya hehe...#diiziiig..kemana ajaaa nih ibu satu ini hahaha... Iya, serius..saya baru ngeh kalo hari ini hari buku.

Okelah..kalau ditanya kenapa saya peduli? karena saya suka baca buku dari kecil. Sampe sekarang pun, disela-sela mengerjakan tugas domestik masih meneruskan baca buku dan nyicil-nyicil untuk bisa BIKIN buku.. Amiiin.

Jadi pengen nulis tentang Sejarahnya Hari Buku Sedunia. Saya tulis lagi dari berbagai sumber ya.



Sejarah Hari Buku Sedunia

Berdasarkan sejarahnya, sebuah buku dibuat pertama kali pada tahun 1923, oleh penjual buku di Spanyol sebagai cara untuk menghormati penulis Miguel de Cervantes yang meninggal pada hari itu. Pada perkembangan selanjutnya, UNESCO memutuskan dan menetapkan bahwa tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia (World Book Day) dan Hari Hak Cipta Sedunia (Copyright Day). Hal ini juga bertujuan untuk mengkampanyekan budaya membaca, kegiatan penerbitan dan hak cipta. Fokusnya adalah kaum muda, yang diharapkan mampu membawa pengaruh positif akan buku, budaya membaca, menulis, dan dunia penerbitan.

Disamping itu, menurut beberapa studi, selain Cervantes yang meninggal pada tanggal 23 April, Pujangga legendaris, William Shakespeare juga meninggal di tanggal yang  sama. Juga beberapa penulis terkemuka lainnya, seperti Inca Garcilaso de la Vega, Joseph Pla, Vladimir Nabokov, Maurice Druon, Manuel Mejia Vallejo dan Haldor Laxness. Perayaan World Book Day pertama kali akhirnya dilakukan pada 23 April 1995.

Versi lain menyebutkan, peringatan Hari Buku Sedunia muncul karena diawali dari sebuah budaya peringatan Hari Saint George di wilayah Katalonia pada abad pertengahan. Tradisinya, seorang pria harus memberikan mawar kepada kekasihnya. Menurut www.kgvaluecard.com, tahun 1925 para perempuan mulai memberikan sebuah buku sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Pada masa itu pula, ternyata lebih dari 400.000 buku terjual dan ditukarkan dengan empat juta mawar.

Akhirnya, perayaan ini menjadi momen untuk melakukan penghargaan antar penulis, penerbit, distributor, organisasi perbukuan, serta komunitas dan masyarakat umum. Semua bekerja sama untuk mempromosikan buku dan literasi, serta nilai-nilai sosial budaya dan kemanusiaan.

Mulai tahun 1995, melalui konferensi UNESCO di Paris, ditetapkanlah 23 April 1995 sebagai Hari Buku Sedunia berdasarkan tradisi tersebut. Dalam perayaan setiap tahunnya, UNESCO menetapkan sebuah kota sebagai Worl Book Capital. Tahun ini, World Book Capital jatuh pada kota Conakry, ibukota dari negara Guinea, dan tahun depan, 2018, kemungkinan kota Athena di Yunani bakal kejatuhan sampur.

Heemm..kapan yaa giliran Indonesia ^_^ hehe
Semoga..

Happy World Book's Day! <3

Selasa, 21 Februari 2017

Semakin Cantik di Umur Cantik

Apa yang perempuan rasakan ketika menginjak usia 30an?

sumber : health.kompas.com

Saya jadi ingat buku koleksi saya Amazing 30. Yaa..usia 30 itu adalah usia yang amazing. Bagi saya, banyak perubahan yang cukup signifikan saya rasakan ketika mencapai usia 30-an. Usia yang cukup matang bagi seorang wanita. Life is begins at thirty, well...benar atau tidak tergantung dari apa yang dirasakan masing-masing orang. Biasanya, di usia 30-an, seorang wanita akan mencapai fase kemapanan. Baik kemapanan dalam bidang finansial, kemapanan dalam karier, kesiapan mental, maupun menemukan pasangan hidup. Buat saya, ini adalah waktu dimana saya sungguh-sungguh mengalami gejolak hidup luar biasa.



Dari seorang gadis muda lalu menjadi seorang istri, kemudian akhirnya menjadi seorang ibu. Dimana dalam setiap fasenya begitu mengejutkan. Terasa begitu cepat dan memberi efek shocking yang sedap-sedap gimana gituuh..
Disinilah kematangan pribadi dan mental saya diuji. Saya terus menerus belajar untuk bisa mengelola emosi, perasaan dan mental. Saat-saat menjadi "galauers" hehe... emak galau.

Tapi seiring itu pula, saya mulai merasa settle secara kepribadian. Di usia 35 tahun ini, saya semakin benar-benar tahu apa yang saya inginkan. Baik secara finansial, cara mencapai impian-impian, maupun kehidupan pribadi. Tidak mudah memang. Meski demikian, saya menikmatinya. Benar-benar menikmatinya.

Menikmati ketika saya berusaha mengendalikan emosi dan perasaan yang naik turun gunung...
Menikmati ketika saya belajar menjadi lebih ikhlas dan sabar...
Menikmati ketika saya merasakan semangat menemukan passion...
Menikmati pasang surutnya hubungan suami istri, hubungan keluarga, relasi dan teman...

Saya pun tidak berhenti untuk selalu memperbarui diri. Mengisi diri saya dengan banyak ilmu pengetahuan. Memenuhi diri saya dengan energi positif dan rasa syukur yang tulus. Mengarahkan orientasi hidup saya untuk menjadi lebih bermanfaat bagi sesama. Merawat diri pribadi dengan seksama. Dan terus menerus memperbaruinya bersama orang-orang yang saya cintai.

Percaya atau tidak, energi positif ini pasti akan terpancar dari diri kita. Makanya, jangan heran kalau banyak orang mengatakan kalau wanita akan terlihat lebih cantik saat memasuki usia 30-an. Kecantikan yang lebih percaya diri dan matang.

Anniversary

Tepat delapan tahun sudah kau dan aku membangun satu demi satu balok masa depan bersama-sama. Tidak terasa...

Lalu, apakah aku masih menyayangimu seperti sejak pertama kita bertemu? Sejak pertama aku mulai mengenal yang namanya cinta..

Terus terang saja, bagiku tidak mudah menjalani naik turun roll coaster hidup ini bersamamu. Karena saat itulah aku benar-benar dihadapkan pada kenyataan hidup.
Kau memang tidak menjanjikan kekayaan, tapi kau meyakinkan aku bahwa tidak akan ada kekurangan dalam keluarga kita.
Kau memang tidak menjanjikan akan selalu mulus jalan kita hidup bersama, tapi kau menunjukkan padaku bahwa kita berdua mampu untuk selalu melalui setiap tantangan yang ada.
Kau memang tidak menjanjikan hal yang muluk-muluk..., tapi kau lebih memilih untuk berproses bersamaku menjalani hidup ini.

Kau merangkulku untuk melewati jalan berbatu ini dengan hati-hati...
Kau menghangatkanku untuk melalui badai di hari-hari yang berat...
Kau menjadi teman ketika tak seorang pun ingin berteman denganku

Lalu...masihkah kau bertanya masihkah aku menyayangimu seperti sejak pertama kita bertemu?




Tataplah aku..
Tataplah mataku..
Lihatlah ke dalam hatiku..
Adakah cintaku padam untukmu?

Terima kasih... karena ternyata kau justru memelukku lebih erat, menatapku lebih dalam, dan membisikkan "Terima kasih, sayang. Aku tahu cintamu utuh untukku. Aku mencintaimu..."


Selamat Hari Jadi untuk kita berdua

❤❤❤

Kamis, 29 Desember 2016

Ujilah Impian Anda

Di penghujung tahun biasanya orang sudah sibuk dengan membuat resolusi, rencana, dan strategi apa yang akan mereka lakukan di tahun berikutnya. Intinya, setiap tahun, mereka memiliki impian. Baik itu impian baru maupun melajutkan mimpi sebelumnya, dan nasarnya adalah untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, menjadi lebih baik lagi di waktu-waktu mendatang.


Hasil gambar untuk impian
sumber : www.amhardinspire.com

Saya sepakat soal ini, manusia itu bertumbuh. Tentu saja harus semakin bertumbuh ke arah kebaikan. Apa impianmu di tahun 2017? Ada target yang ingin kamu capai? Atau kamu punya strategi baru yang peru segera dilaksanakan tahun 2017 nanti? Setidaknya, ini menjadi pertanyaan buat saya pribadi. Lepas dari peran lifetime saya sebagai ibu rumah tangga yang tidak bekerja, saya pun mempunyai impian dan cita-cita personal. Bersyukurnya saya, di saat yang tepat saya mendapatkan buku John C. Maxwell yang membahas tentang IMPIAN. Hehe.. maaf kalo sedikit promosi, tapi bukan itu tujuan saya.

John Maxwell menyadarkan saya akan satu hal, bahwa saya tidak penah berpikir saya harus menguji impian saya. Yang saya lakukan yaa..setiap tahun saya menetapkan impian baru, target baru, resolusi baru dan prakteknya mengalir begitu saja tanpa ada ketentuan dan aturan tertentu yang harus saya ikuti. Bisa ditebak, yang sering terjadi justru setiap tahun resolusi saya ga maju-maju, masih berkutat dengan hal yang sama yang saya INGIN lakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Menarik sekali membaca buku karangan John Maxwell ini. Ada sepuluh pertanyaan yang menolong saya melihat dengan jelas apa IMPIAN saya dan bagaimana saya bisa meraihnya. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain :

-        Apakah Impian Saya Benar-Benar Impian Saya?

-        Apakah Saya Melihat Impian Saya dengan Jelas?

-       Apakah Saya Bergantung pada Faktor-Faktor di Dalam Kendali Saya untuk Meraih Impian Saya?

-        Apakah Impian Saya Memaksa Saya untuk Mengikutinya?

-        Apakah Saya Mempunyai Strategi untuk Mencapai Impian Saya?

-     Apakah Saya Menyertakan Orang-Orang yang Saya Butuhkan untuk Mewujudkan Impian Saya?

-        Apakah Saya Bersedia untuk Membayar Harga bagi Impian Saya?

-        Apakah Saya Melangkah Lebih Dekat pada Impian Saya?

-        Apakah Bekerja ke Arah Impian Saya Membawa Kepuasan?

-        Apakah Impian Saya Bermanfaat Bagi Orang Lain?

Saya rasa siapa pun akan merasa setuju dengan pertanyaan-pertanyaan itu, membuat kita untuk menganggukkan kepala berkali-kali.

Hasil gambar untuk impian
source : www.immanuelbookstore.co.id

Lalu, mau tidak mau nasib impian saya juga perlu melewati ujian semacam ini. Tahukah Anda, apa yang saya rasakan setelahnya? Saya jadi semakin mantap untuk fokus pada satu impian. Pada satu tujuan yang benar-benar ingin saya raih di tahun 2017. Asal tahu saja, kebiasaan multitasking saya sebagai ibu rumah tangga sudah sekian lama menyabotase kemampuan saya untuk bisa fokus pada satu hal. Bukan sesuatu yang buruk memang, hanya menjadi tidak seimbang. Jadi disinilah saya, menyiapkan diri saya untuk lebih fokus. Mereparasi hati, impian, dan komitmen saya. Semoga Anda juga menemukan apa yang sebenarnya Anda cari di masa depan.

Salam Hangat,

-ndil-

Rabu, 30 November 2016

Anak Tangga Impianku Itu Bernama Guru

Masih dalam rangka peringatan Hari GURU, tulisan ini mencoba merekam dan mengeja makna peran seorang guru. Jika boleh mengambil gambaran, guru itu laksana anak tangga yang mengantarku mencapai impian. Setiap tingkatan kelas yang akui lalui adalah pijakan-pijakan awal dari mimpi-mimpi besarku. Tidak ada kata-kata yang tepat selain TERIMA KASIH untuk semua yang telah dilakukan oleh seorang guru padaku.



Mereka mengemban tugas besar dalam sistematika alam semesta. Tanggung jawabnya tidak berhenti hanya pada hasil yang kasat mata, melainkan terlebih pada proses peradaban manusia di dunia. Mereka adalah tangan-tangan Tuhan yang fana, yang memastikan setiap individu ciptaan-Nya bermakna. 

Makanya, aku sangat hancur hati ketika mendengar berita dari sebagian kecil para "empu" ini mengkhianati amanahnya, menghancurkan benih masa depan. Mengejutkan kesadaranku bahwa mereka juga adalah manusia biasa.

Lepas dari itu semua, kini aku hanya ingin melihat satu titik terang saja di depan sana. GURU jasamu tiada tara. Mampukan aku menjadi guru juga bagi pelita kecilku. Mampukan aku membuka cakrawala yang luas tanpa batas. Tuhanlah yang menyertai setiap langkahmu. Tuhanlah yang mengiringi semangat pengorbananmu. Hingga mimpimu terwujud, melihat kami bisa terbang lebih tinggi darimu.

Terima kasih, GURU

Klaten..
Hari Guru, 25 November 2016

-ndil-


Selasa, 16 Agustus 2016

Hari Kemerdekaan Indonesia yang Indonesia Banget


Meski mulai banyak yang mempertanyakan apa makna perayaan tujuh belas agustus, hari kemerdekaan RI, bagi saya tetap menjadi momen yang penuh kesan setiap tahunnya. Pemaknaan hari kemerdekaan itu bisa banyak versi dan banyak sudut pandang. 

Apa pun itu, bagi saya hari kemerdekaan itu berarti lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, balap karung, atau lomba memasukkan belut ke dalam botol. Anak saya paling suka lomba menghias sepeda, karena dia sangat suka main sepeda..apalagi sepeda yang baru saja dibelikan ayahnya. Kalau yang sudah emak-emak seperti saya ini, favoritnya adalah jalan sehat, lomba joget atau lomba menyanyikan lagu PKK atau lagu perjuangan. Sangat menghibur dan penuh rasa kekeluargaan. Bahkan ayah saya yang sudah tua pun masih bersemangat ikut lomba masak bapak-bapak. Hihi...keren pokoknya. 

Saya bersyukur masih bisa mengalami semua peristiwa itu. Meski acara-acara demikian kadang dianggap sekedar seremonial yang dangkal, tapi momen ini sangat membekas pada memori saya hingga sekarang. 

Saya bersyukur, karena momen ini menjadi momen yang paling mudah diingat oleh anak-anak saya bahwa tanggal itu adalah tanggal kelahiran bangsa Indonesia. Terkadang pemahaman yang sederhana soal kemerdekaan masih tetap perlu dilestarikan di jaman yang kata orang sudah mengglobal ini. Dimana generasinya sudah lebih melek internet dan lebih individual. Bukan tidak mungkin, nilai sosial, kekeluargaan dan kemasyarakatan itu didapatkan oleh generasi "individualisme" dari perayaan tujuh belasan.
Saya bersyukur...

Asal tahu saja, mungkin hanya di Indonesia saja yang selalu dengan sangat meriah merayakan hari kemerdekaannya. Yang bendera dan umbul-umbul warna-warninya selalu menghiasi jalan-jalan di kota dan di kampung-kampung di seluruh Indonesia. Yang teks proklamasinya selalu dibacakan setiap tahun hingga kami warga negaranya bisa menghapalnya di luar kepala. Meski ironi pelajaran sejarah sudah dihilangkan dari kurikulum pendidikan Indonesia.

Saya bersyukur, karena momen ini selalu mengingatkan saya pada kebhinekaan Indonesia yang tunggal ika. Mengingatkan saya bahwa kita punya Pancasila sebagai dasar negara. Mengingatkan bahwa perjuangan melawan penjajah menjadi tonggak semangat memajukan Indonesia hingga ke tingkat dunia saat ini. Menyadarkan saya akan kekayaan alam, ragam budaya dan adat istiadat yang sangat dikagumi dunia. Yang membuat saya selalu terharu mendengar nasionalisme justru begitu kental terasa di luar Indonesia dibandingkan di negara sendiri.

Saya bersyukur dan bangga. 
Inilah Indonesiaku..

17 Agustus 2016


Sekian Lama Terlelap...

Hwuaaah... Rasanya seperti menghirup udara baru. Lama sudah tidak menulis di blog ini. Sekarang mudah-mudahan niat baru untuk lebih sering ...